Teknologi

LCR Meter: Jenis, Cara Pakai, dan Harga di Indonesia

Disusun dan diverifikasi dari sumber yang dikutip, ditinjau oleh tim editorial kami.

Di toko alat ukur Indonesia, LCR meter yang paling murah dijual sekitar Rp485.000 (Dekko 63LCR), yang kelas servis harian di kisaran Rp3.150.000 (Sanwa LCR700), dan yang kelas laboratorium menembus Rp64.975.000 (Hioki IM3533).[1] Rentangnya lebih dari seratus kali lipat, padahal ketiganya sama-sama disebut alat ukur induktansi kapasitansi resistansi.

Yang membuat harganya melompat sejauh itu bukan jumlah parameter yang bisa ditampilkan — hampir semuanya sudah menampilkan L, C, dan R. Yang membedakan hanya tiga hal:

  1. Set frekuensi uji yang tersedia — satu frekuensi tetap, atau 100 Hz sampai 100 kHz yang bisa dipilih.
  2. Dua kabel atau empat kabel Kelvin — apakah resistansi kabel ikut terukur atau tidak.
  3. Akurasi dasar — ±2%, ±0,5%, atau ±0,05%.

Kalau tiga hal itu Anda pahami, memilih LCR meter jadi mudah dan Anda tidak akan membayar Rp10 juta untuk pekerjaan yang cukup dilakukan alat Rp900 ribu — atau sebaliknya, membeli alat Rp485 ribu lalu kecewa karena kapasitor 10 pF terbaca semaunya.

🧪 Ringkasnya
Nama lainLCR meter · RLC meter · jembatan LCR · alat ukur induktansi kapasitansi resistansi
Yang diukurImpedansi (Z) pada frekuensi AC tertentu, lalu diurai jadi L, C, R
Beda dari multimeterMultimeter memakai pengisian DC; LCR meter memakai sinyal AC berfrekuensi
Parameter pentingESR, D (tan δ), Q, sudut fase θ
Frekuensi lazim100 Hz · 120 Hz · 1 kHz · 10 kHz · 100 kHz
Wajib dilakukanKalibrasi OPEN/SHORT sebelum mengukur nilai kecil
Larangan mutlakJangan mengukur di atas papan bertegangan; kapasitor harus dikosongkan dulu
Harga masukRp485.000 (Dekko 63LCR)
Harga kelas labRp64.975.000 (Hioki IM3533)

Apa itu LCR meter dan kenapa multimeter tidak cukup

Multimeter digital yang punya fasilitas kapasitansi mengukur dengan cara sederhana: ia mengalirkan arus DC kecil ke kapasitor, menghitung berapa lama tegangannya naik ke ambang tertentu, lalu menerjemahkan waktu itu menjadi mikrofarad. Hasilnya satu angka saja, dan angka itu hanya menjawab satu pertanyaan: berapa muatan yang bisa ditampung.

LCR meter bekerja dengan cara yang berbeda. Ia menyuntikkan sinyal AC pada frekuensi yang diketahui — misalnya 1 kHz atau 100 kHz — lalu mengukur dua hal sekaligus: perbandingan amplitudo tegangan terhadap arus, dan beda fase di antara keduanya. Dari dua besaran itu ia menghitung impedansi kompleks komponen, lalu memisahkannya menjadi bagian yang menyimpan energi (L atau C) dan bagian yang membuang energi jadi panas (R).[2]

Perbedaan itulah yang menjelaskan singkatan-singkatan di layarnya:

SimbolNamaArtinya di lapangan
LInduktansi (henry, H)Kemampuan lilitan menyimpan energi dalam medan magnet
CKapasitansi (farad, F)Kemampuan kapasitor menyimpan muatan
RResistansi (ohm, Ω)Hambatan murni terhadap arus
ZImpedansi (Ω)Hambatan total terhadap arus AC pada frekuensi uji
ESREquivalent Series Resistance (Ω)Resistansi seri tersembunyi di dalam kapasitor — penyebab panas
DDisipasi, tan δPerbandingan rugi terhadap simpanan; makin kecil makin bagus
QFaktor kualitasKebalikan D; dipakai untuk menilai mutu lilitan
θSudut fase (derajat)Seberapa jauh komponen menyimpang dari ideal

Inilah kalimat kuncinya: kapasitor elektrolit yang kapasitansinya terbaca normal bisa saja sudah rusak. Elektrolitnya mengering pelan-pelan, ESR-nya naik diam-diam dari 0,05 Ω menjadi 3 Ω, sementara nilai mikrofaradnya nyaris tidak berubah. Multimeter akan bilang “1000 µF, aman”. Padahal pada power supply switching yang menyalurkan arus riak puluhan kilohertz, ESR 3 Ω berarti kapasitor itu berubah jadi pemanas: tegangan keluaran bergelombang, IC regulator ikut panas, dan akhirnya perangkat mati sendiri setelah beberapa menit menyala. Itulah alasan teknisi servis power supply, TV LED, dan adaptor laptop menganggap ESR lebih penting daripada nilai kapasitansi.

Elco yang kembung memang gampang dikenali dari mata — tutup atasnya menggelembung atau bocor kecokelatan. Tetapi elco yang ESR-nya sudah tinggi seringkali masih rata dan tampak mulus. Hanya alat yang mengukur pada frekuensi tinggi yang bisa membongkarnya.

Dua aturan yang tidak boleh dilanggar. Pertama, LCR meter tidak mengukur komponen yang masih terpasang di rangkaian. Resistor, kapasitor, dan lilitan yang paralel dengan komponen target ikut terbaca, sehingga angkanya tidak berarti apa-apa — minimal satu kaki komponen harus dilepas dari PCB. Kedua, kapasitor yang masih bermuatan akan merusak masukan alat. Kapasitor besar di power supply switching bisa menyimpan ratusan volt berjam-jam setelah listrik dicabut. Kosongkan dulu lewat resistor beberapa kilo-ohm (jangan dikorsletkan dengan obeng), baru sentuhkan probe.

Jenis LCR meter dan kisaran harganya

JenisUntuk apaCiri pembedaKisaran harga
Kapasitansi meter / LCR sederhanaHobi, praktikum sekolah, cek komponen kotak sortirSatu frekuensi tetap, ganti batas ukur manualRp485.000 – Rp700.000
Penjepit SMD (tweezer)Komponen tempel di papan padatUjung jepit langsung, tanpa kabel; pengenalan otomatisRp350.000 – Rp1.000.000
LCR genggam dasarBengkel elektronik umum2–3 frekuensi, akurasi ±1–2%, dua kabelRp1.900.000 – Rp2.200.000
LCR genggam lanjutanServis profesional, QC lapangan4–5 frekuensi sampai 100 kHz, ESR, mode seri/paralelRp3.100.000 – Rp9.700.000
LCR meja (benchtop)Produksi, laboratorium, sortir massalEmpat kabel Kelvin, tegangan uji diatur, antarmuka komputerRp6.700.000 – Rp65.000.000
ESR meter khususServis power supply dan TVHanya ESR, frekuensi tinggi tetap, sangat cepatRp250.000 – Rp900.000
Component tester (transistor tester)Identifikasi komponen tak dikenalMenebak jenis komponen sendiri dan menggambar pinoutRp230.000 – Rp780.000
Impedance analyzerRiset, desain filter dan antenaMenyapu frekuensi dan menggambar kurva Z terhadap fDi atas Rp65.000.000

Peringatan yang paling sering diabaikan pembeli pemula: component tester bukan LCR meter. Alat murah bertuliskan “LCR-T4”, “TC1”, atau “LCR-P1” itu adalah transistor tester — ia menebak apakah komponen yang dijepit berupa transistor, dioda, MOSFET, kapasitor, atau lilitan, lalu menampilkan nilainya. Sangat berguna untuk mengidentifikasi komponen yang kodenya sudah terhapus, dan harganya di bawah Rp400.000. Tetapi ia mengukur pada satu frekuensi rendah tetap, tidak bisa memilih frekuensi, tidak punya mode seri/paralel, dan akurasinya kelas persen belasan pada nilai kecil. Untuk memilah kapasitor 100 nF toleransi 1% atau mengukur lilitan 2,2 µH, alat ini tidak layak dipakai.

Enam hal yang menentukan harga LCR meter

  1. Jumlah dan batas atas frekuensi uji. Alat termurah bekerja hanya pada satu frekuensi (biasanya sekitar 1 kHz). Kelas menengah memberi 100 Hz, 120 Hz, dan 1 kHz. Kelas Rp3 jutaan menambah 10 kHz dan 100 kHz — dan justru 10–100 kHz inilah yang diperlukan untuk mengukur ESR kapasitor power supply.
  2. Dua kabel versus empat kabel Kelvin. Pada sambungan dua kabel, resistansi kabel dan sambungan ikut terukur. Angkanya kecil — sekitar 0,05–0,2 Ω — tetapi ketika Anda mengukur ESR kapasitor yang nilainya juga 0,05 Ω, kesalahannya bisa sebesar nilai yang diukur. Empat kabel Kelvin memisahkan jalur arus dari jalur pengukuran tegangan, sehingga resistansi kabel tidak lagi ikut terhitung.[3]
  3. Akurasi dasar. Alat hobi berada di ±1–2%, alat servis profesional di ±0,3–0,5%, alat meja di ±0,05–0,1%. Angka ini berlaku pada kondisi terbaik saja; di ujung batas ukur, kesalahannya selalu lebih besar.
  4. Nilai terkecil yang mampu dibaca. Kemampuan membaca pikofarad dan mikrohenry adalah pembeda kelas yang sesungguhnya. Alat murah mulai berhenti masuk akal di bawah 100 pF dan di bawah 100 µH.
  5. Pengaturan level dan tegangan uji. Beberapa komponen — terutama kapasitor keramik kelas 2 (X7R, Y5V) dan inti ferit — berubah nilainya tergantung tegangan yang diterapkan. Alat yang memungkinkan level uji diatur (misalnya 0,1 V, 0,5 V, 1 V) memberi hasil yang bisa dibandingkan dengan lembar data pabrik.
  6. Kemampuan tambahan. Pengukuran resistansi DC terpisah, fungsi bin sorting untuk memilah komponen produksi, antarmuka USB/RS-232 untuk merekam data, dan mode rasio lilitan transformator. Fitur terakhir ini yang dicari bengkel gulung trafo dan motor.

Model dan harga LCR meter di Indonesia

Semua harga di bawah berasal dari toko yang bisa diakses dari Indonesia. Nama modelnya nyata; kalau Anda menemukan harga yang jauh lebih murah untuk model yang sama, periksa dulu apakah barangnya asli dan bergaransi.

Kelas hemat: di bawah Rp1 juta

ModelUntuk apaHargaToko
Dekko 63LCRLCR dasar, R 20 Ω–2000 MΩ, C 2000 pF–200 µF, L 20 mH–20 H, plus hFERp485.000Darmasakti
FNIRSI LCR-P1Transistor tester + LCR + ESR, layar warna, isi ulang USB-CRp294.100Jakmall
FNIRSI LCR-P1 (harga lain)Sama, stok berbedaRp346.000Jakarta Notebook
LCR-TC1 component testerIdentifikasi komponen, layar warna kecilRp230.000 – Rp375.000Tokopedia
Aneng GN702Penjepit SMD pintar, LCR + ESR, pengenalan otomatisRp930.000Darmasakti

Kalau anggaran Anda benar-benar di bawah Rp500 ribu dan pekerjaannya cuma memastikan kapasitor mati atau hidup, Dekko 63LCR atau salah satu component tester sudah menyelesaikan masalah. Jangan berharap lebih dari itu: 63LCR tidak menampilkan ESR sama sekali.

Kelas servis harian: Rp1,9 juta – Rp3,5 juta

ModelCiri utamaHargaToko
Krisbow KW060048911.000 counts, auto range, DMM + LCR dalam satu bodi, CAT III 1000 VRp1.919.000Ruparupa · ACE · Informa
Lutron LCR-9184LCR genggam, tampilan besar, pilihan frekuensiRp2.100.000Tokopedia
ET430 LCR bridge testerPresisi tinggi sampai 100 kHz, gaya meja kecilRp2.850.000Tokopedia
Sanwa LCR7005 frekuensi (100/120 Hz, 1/10/100 kHz), Ls/Lp/Cs/Cp, D/Q/θ/ESR, akurasi ±0,3%Rp3.150.000Tokopedia
APPA 701LCR genggam profesionalRp3.499.999Tokopedia
UNI-T UT611100 Hz/120 Hz/1 kHz/10 kHz, akurasi ±0,4%, memori 1000 data, USB, jepit SMDRp3.400.000Darmasakti

Titik manisnya ada di sini. Sanwa LCR700 adalah pilihan paling masuk akal untuk teknisi servis Indonesia karena ia satu-satunya di kelas ini yang menjangkau 100 kHz — frekuensi yang dibutuhkan untuk membaca ESR kapasitor power supply switching secara jujur — sekaligus menampilkan ESR sebagai sub-parameter. UNI-T UT611 berhenti di 10 kHz tetapi menang di penyimpanan data dan harga distributor resmi. Krisbow KW0600489 menarik bagi yang ingin satu alat merangkap multimeter, dan gerainya ada di hampir semua kota lewat ACE dan Informa.

Kelas laboratorium dan produksi

ModelCiri utamaHargaToko
Extech LCR200LCR meja untuk komponen pasif, banyak frekuensiRp6.730.000Darmasakti
Amprobe LCR55ALCR genggam kelas industriRp9.700.000Darmasakti
Hioki IM35331 mHz – 200 kHz, akurasi dasar ±0,05%, kecepatan 2 ms, mode rasio lilitan trafoRp64.975.000Darmasakti

Hioki IM3533 memperlihatkan apa yang sebenarnya Anda bayar di kelas ini: bukan sekadar angka akurasi, melainkan frekuensi terendah 1 mHz yang tidak dimiliki alat genggam mana pun, kecepatan ukur 2 milidetik untuk lini produksi, dan mode khusus rasio lilitan transformator. Kalau pekerjaan Anda menerima komponen dari pemasok dan harus menolak batch yang melenceng, alat inilah yang jadi rujukan. Untuk pekerjaan servis, membeli alat sekelas ini adalah pemborosan murni.

Semua harga adalah harga indikatif per September 2026 dan bisa berubah sewaktu-waktu.

Tabel frekuensi uji: pilih yang mana untuk komponen apa

Frekuensi uji bukan pengaturan yang bisa diabaikan. Nilai kapasitor keramik dan elektrolit benar-benar berubah tergantung frekuensi pengukurannya, dan lembar data pabrik selalu menyebutkan pada frekuensi berapa angkanya berlaku.

Yang diukurFrekuensi yang dipakaiAlasan
Kapasitansi elektrolit100 Hz / 120 HzStandar industri; ini frekuensi yang dipakai lembar data elco
ESR elektrolit10 kHz / 100 kHzESR baru terlihat wajar di frekuensi kerja power supply switching
Kapasitor keramik dan film1 kHzFrekuensi rujukan umum untuk kapasitor nilai menengah
Kapasitor kecil (satuan pF)10 kHz / 100 kHzImpedansinya sangat tinggi di frekuensi rendah, arus ukur jadi terlalu kecil
Lilitan daya, trafo, choke100 Hz – 1 kHzMendekati frekuensi kerja sesungguhnya; inti ferit berperilaku beda di frekuensi tinggi
Lilitan RF, choke kecil100 kHz ke atasNilai mikrohenry hanya terbaca berarti di frekuensi tinggi

Aturan yang bisa Anda hafal: komponen berimpedansi tinggi (kapasitansi kecil, induktansi besar) diukur pada frekuensi tinggi; komponen berimpedansi rendah (kapasitansi besar, induktansi kecil) diukur pada frekuensi rendah. Tujuannya sama — mendorong impedansi komponen ke rentang di mana alat paling akurat.

Mode seri atau paralel: pilihan yang paling sering salah

Setiap komponen nyata bisa digambarkan sebagai kombinasi elemen ideal dengan sebuah resistor. Pertanyaannya, resistor itu digambar seri atau paralel dengan L/C-nya. Alat tidak bisa menebak sendiri; Andalah yang harus memilih, dan pilihan yang salah menghasilkan angka rugi (D dan Q) yang keliru.[4]

  • Impedansi rendah (di bawah sekitar 100 Ω) — kapasitor besar, lilitan bernilai kecil, kabel dan bus bar. Di sini rugi datang dari resistansi kawat dan sambungan, yang secara fisik memang berderet dengan komponennya. Pilih mode seri (Cs, Ls, Rs). Inilah mode yang dipakai kalau Anda mengukur ESR.
  • Impedansi tinggi (di atas sekitar 10 kΩ) — kapasitor pikofarad, lilitan bernilai besar, bahan isolasi. Di sini rugi datang dari kebocoran dielektrik, yang jalurnya sejajar dengan komponen. Pilih mode paralel (Cp, Lp, Rp).
  • Di antara kira-kira 100 Ω sampai 10 kΩ jangan menebak. Pada rentang tengah ini mode yang benar bergantung pada komponennya sendiri; kalau datasheet tidak menyebutkan, tanyakan ke pabrikan.

Satu aturan praktis menutup semuanya: kalau hasilnya akan dibandingkan dengan lembar data, pakailah mode dan frekuensi yang dipakai lembar data itu. Membandingkan Cp hasil ukuran Anda dengan Cs yang tertulis di katalog adalah cara termudah mencurigai komponen yang sebenarnya baik-baik saja.

Langkah demi langkah mengukur dengan LCR meter

  1. 1
    Lepas dari rangkaian dan kosongkan muatannya. Minimal satu kaki komponen dilepas dari PCB, kalau tidak semua komponen paralel di sekitarnya ikut terbaca. Untuk kapasitor besar, kosongkan lebih dulu lewat resistor beberapa kilo-ohm selama beberapa detik — mengorsletkan langsung dengan obeng merusak kapasitor dan berbahaya.
  2. 2
    Pilih parameter yang akan diukur. L, C, atau R. Mode otomatis pada alat murah sering salah tebak pada komponen bernilai ekstrem, jadi pada kasus meragukan tentukan sendiri secara manual.
  3. 3
    Pilih frekuensi uji. Ikuti tabel di atas: 100/120 Hz untuk kapasitansi elektrolit, 1 kHz untuk keramik dan film, 10–100 kHz untuk ESR dan komponen kecil. Melewatkan langkah ini adalah penyebab paling umum hasil yang tidak cocok dengan katalog.
  4. 4
    Pilih model rangkaian setara. Seri untuk impedansi rendah, paralel untuk impedansi tinggi. Kalau alat Anda hanya punya satu mode, catat itu saat membandingkan hasil.
  5. 5
    Lakukan kalibrasi OPEN dan SHORT. OPEN dengan probe terbuka membuang kapasitansi liar kabel; SHORT dengan kedua probe disatukan membuang resistansi dan induktansi kabel. Tanpa ini, pembacaan pikofarad dan mikrohenry salah sejak awal. Ulangi setiap kali Anda mengganti kabel, penjepit, atau fixture — bahkan setiap kali panjang kabelnya berubah.[[5]](https://www.hioki.com/global/support/faq/detail/id_444)
  6. 6
    Gunakan sambungan Kelvin empat kabel bila tersedia. Dua penjepit di setiap kaki komponen: sepasang mengalirkan arus, sepasang lagi membaca tegangan. Untuk pengukuran di bawah 1 Ω, ini bukan kemewahan melainkan keharusan.
  7. 7
    Jangan pegang komponennya, dan diamkan probenya. Tangan manusia menambahkan kapasitansi beberapa pikofarad dan tubuh Anda menjadi antena. Letakkan komponen di fixture atau jepit tetap, jauhkan tangan, lalu baca setelah angkanya berhenti bergerak.

Enam kesalahan yang paling sering terjadi

  1. Mengukur di atas papan tanpa melepas komponen. Jalur paralel membuat angkanya selalu lebih kecil dari nilai sesungguhnya untuk resistor, dan tak menentu untuk kapasitor.
  2. Melewatkan kalibrasi OPEN/SHORT. Alat menyala, angkanya keluar, semuanya tampak beres — padahal kabel sepanjang setengah meter sudah menyumbang 20–40 pF sendiri.
  3. Membandingkan hasil dari frekuensi berbeda. Elco yang terbaca 1000 µF pada 120 Hz bisa terbaca 700 µF pada 10 kHz. Keduanya benar; yang salah adalah membandingkannya.
  4. Menyimpulkan kapasitor sehat hanya dari nilai kapasitansi. Tanpa melihat ESR, separuh cerita hilang. Pada elco yang sudah tua, ESR-lah yang naik lebih dulu.
  5. Menyentuhkan probe ke kapasitor yang masih bermuatan. Ini merusak masukan alat secara permanen, dan pada power supply switching bisa mencederai Anda.
  6. Mengira component tester Rp300 ribu setara LCR meter. Alat itu bagus untuk mengenali komponen, bukan untuk mengukurnya dengan teliti.

Pekerjaan apa butuh alat yang mana

PekerjaanAlat yang tepatKenapa
Servis power supply switching, adaptor, TV LEDLCR genggam dengan ESR pada 10–100 kHz (Sanwa LCR700)ESR pada frekuensi tinggi adalah penentu vonis kapasitor
Cek cepat elco kembung di banyak papanESR meter khusus atau penjepit SMDKecepatan lebih penting daripada ketelitian
Perbaikan papan SMD padatPenjepit LCR (Aneng GN702, FNIRSI LCR-ST1)Tidak perlu kabel; ujung jepit langsung mengenai bantalan
Identifikasi komponen tanpa kodeComponent tester (LCR-P1, TC1)Menebak jenis komponen dan menggambar pinout sendiri
Praktikum sekolah dan kuliah dasarLCR sederhana (Dekko 63LCR)Cukup untuk membuktikan konsep L, C, R
Bengkel gulung trafo dan motorLCR dengan mode rasio lilitan (Hioki IM3533)Membandingkan induktansi antar-fase dan rasio lilitan
Sortir komponen produksi, QC masukLCR meja dengan bin sorting dan USBKecepatan, akurasi ±0,05%, dan rekaman data

Merek LCR meter yang beredar di Indonesia

  • Sanwa — merek Jepang yang paling dipercaya teknisi servis Indonesia. LCR700 adalah satu-satunya alat genggam kelas Rp3 jutaan yang menawarkan lima frekuensi sampai 100 kHz plus ESR. Jaringan distributor resminya luas, jadi garansinya jelas.
  • Hioki — kelas laboratorium. Seri IM3533, IM3536, dan IM3570 dijual lewat distributor resmi dengan harga puluhan juta. Manual dan catatan aplikasinya juga menjadi rujukan teknis paling sering dikutip soal kompensasi dan model rangkaian setara.
  • UNI-T — merek Tiongkok yang tersedia paling luas di marketplace Indonesia. Seri UT610/UT611/UT612 menutup kelas menengah dengan harga distributor sekitar Rp3,4 juta; UT612 menambah frekuensi kelima dan tampilan ganda.[6]
  • FNIRSI — pendatang baru yang mendominasi kelas hemat. LCR-P1 dan LCR-ST1 dijual di Tokopedia, Jakmall, dan Jakarta Notebook di rentang Rp294 ribu sampai Rp780 ribu. Bagus untuk hobi dan identifikasi, bukan untuk pengukuran presisi.
  • Krisbow dan Dekko — merek yang paling gampang dibeli secara fisik di Indonesia. Krisbow ada di gerai ACE dan Informa di banyak kota; Dekko dijual lewat toko alat ukur dan distributor daring. Kelebihannya ketersediaan dan garansi lokal, bukan spesifikasi.
  • GW Instek — merek Taiwan untuk kelas meja. Seri LCR-6000 (LCR-6002, LCR-6020, LCR-6100, LCR-6200, LCR-6300) menawarkan akurasi dasar 0,05% dengan batas frekuensi 2 kHz sampai 300 kHz tergantung modelnya, dan dijual di Indonesia lewat distributor alat ukur, bukan marketplace.[7]
  • Kyoritsu — perlu diluruskan. Merek ini sangat kuat di Indonesia, tetapi kekuatannya ada di insulation tester, earth tester, dan tang ampere, bukan LCR meter. Kalau Anda mencari LCR meter Kyoritsu, kemungkinan besar yang ditawarkan penjual adalah multimeter dengan fungsi kapasitansi. Periksa nomor modelnya sebelum membayar.
  • Constant — merek anggaran yang lazim di toko komponen Indonesia untuk multimeter dan tester sederhana. Untuk keperluan LCR yang sesungguhnya, pilihannya terbatas.

Daftar periksa sebelum membeli

  1. Frekuensi uji apa saja yang tersedia? Kalau pekerjaan Anda menyentuh power supply switching, tanpa 10 kHz dan 100 kHz alat itu tidak berguna.
  2. Apakah menampilkan ESR sebagai parameter terpisah? Bukan sekadar “R”, tetapi ESR pada frekuensi yang Anda pilih.
  3. Dua kabel atau empat kabel Kelvin? Untuk pengukuran di bawah 1 Ω, empat kabel wajib.
  4. Berapa akurasi dasarnya, dan pada kondisi apa angka itu berlaku? Baca catatan kaki lembar spesifikasinya, bukan hanya angka besar di brosur.
  5. Nilai terkecil yang mampu dibaca berapa? Cek batas pikofarad dan mikrohenrinya, bukan batas atasnya.
  6. Ada fungsi kalibrasi OPEN/SHORT? Alat tanpa ini tidak bisa dipercaya untuk nilai kecil, berapa pun harganya.
  7. Bisa memilih mode seri dan paralel? Kalau tidak, hasilnya sulit dibandingkan dengan lembar data.
  8. Kelengkapannya apa saja? Penjepit Kelvin, jepit SMD, dan fixture komponen sering dijual terpisah dengan harga yang tidak sepele.
  9. Garansi dan servis lokalnya jelas? Alat impor pribadi tanpa distributor resmi berarti tidak ada kalibrasi ulang di dalam negeri.
  10. Siapa yang mengalibrasi ulang, dan berapa lama sekali? Untuk pemakaian QC, kalibrasi berkala adalah bagian dari biaya kepemilikan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa itu LCR meter? LCR meter adalah alat ukur induktansi kapasitansi resistansi yang menyuntikkan sinyal AC berfrekuensi tertentu ke sebuah komponen, lalu menghitung impedansinya dari perbandingan amplitudo dan beda fase antara tegangan dan arus.

Berapa harga LCR meter di Indonesia? Mulai sekitar Rp485.000 untuk Dekko 63LCR, Rp1.919.000 untuk Krisbow KW0600489, Rp3.150.000 untuk Sanwa LCR700, sampai Rp64.975.000 untuk Hioki IM3533 kelas laboratorium.

Apa beda LCR meter dan multimeter? Multimeter mengukur kapasitansi dengan menghitung waktu pengisian DC dan hanya memberi satu angka; LCR meter mengukur pada frekuensi AC yang bisa dipilih dan menampilkan ESR, D, Q, serta sudut fase.

Apakah LCR meter bisa mengukur ESR? Alat kelas menengah ke atas bisa, asalkan menyediakan frekuensi 10 kHz atau 100 kHz. LCR paling murah seperti Dekko 63LCR tidak menampilkan ESR sama sekali.

Bisakah mengukur komponen tanpa melepasnya dari PCB? Tidak untuk hasil yang bisa dipercaya. Komponen lain yang paralel ikut terukur, jadi minimal satu kaki harus dilepas dari papan.

Frekuensi berapa untuk mengukur elco? Pakai 100 Hz atau 120 Hz untuk nilai kapasitansinya, lalu 10 kHz atau 100 kHz untuk ESR-nya. Dua angka itu menjawab pertanyaan yang berbeda.

Kenapa hasil ukur saya beda dengan nilai yang tertulis di komponen? Biasanya karena frekuensi ujinya berbeda dari frekuensi yang dipakai pabrik, mode seri/paralelnya salah, atau kalibrasi OPEN/SHORT belum dilakukan.

Apakah component tester LCR-T4 dan TC1 sama dengan LCR meter? Tidak. Keduanya transistor tester yang bagus untuk mengenali jenis komponen dan pinout, tetapi tidak bisa memilih frekuensi uji dan akurasinya jauh di bawah LCR meter sungguhan.

Bagaimana cara mengecek elco kembung dengan LCR meter? Lepas satu kakinya, kosongkan muatannya, ukur kapasitansi pada 120 Hz lalu ESR pada 10–100 kHz. ESR yang naik jauh di atas nilai lembar data berarti kapasitor itu sudah habis, meskipun kapasitansinya masih terlihat normal.

LCR meter merek apa yang bagus untuk teknisi servis? Sanwa LCR700 karena menjangkau 100 kHz dan menampilkan ESR; UNI-T UT611 sebagai alternatif dengan penyimpanan data; Krisbow KW0600489 bila ingin satu alat merangkap multimeter.

Apa itu kalibrasi OPEN dan SHORT dan kenapa penting? OPEN membuang kapasitansi liar kabel saat probe terbuka, SHORT membuang resistansi dan induktansi kabel saat probe disatukan. Tanpa keduanya, pembacaan pikofarad dan mikrohenry salah sejak awal.

Kenapa perlu sambungan Kelvin empat kabel? Karena resistansi kabel dan sambungan yang besarnya 0,05–0,2 Ω bisa sebesar nilai ESR yang sedang diukur. Empat kabel memisahkan jalur arus dari jalur pembacaan tegangan sehingga kesalahannya hilang.

Bisakah LCR meter mengukur lilitan trafo dan motor? Bisa, dengan frekuensi rendah 100 Hz sampai 1 kHz. Untuk membandingkan rasio lilitan antar-fase secara resmi, diperlukan alat meja yang punya mode rasio lilitan seperti Hioki IM3533.

Sumber

  1. Daftar harga alat ukur listrik — Darmasakti Indonesia
  2. How to Use an LCR Meter: Basic Knowledge — Hioki
  3. Impedance Measurement Handbook — Keysight Technologies
  4. Selecting the equivalent circuit mode of the LCR meter — Hioki FAQ
  5. Open compensation on an LCR meter — Hioki FAQ
  6. UT612 LCR Meter — UNI-T Meters
  7. LCR-6000 Precision LCR Meter — GW Instek
Kategori:Teknologi

← Kembali ke Teknologi